SUPERGAHARU

Global Network – Cultivated Agarwood dpurwan@gmail.com +6281218380386

Agarwood Workshop


 

 

Pada tanggal 22 – 24 Nopember 2011, Kementrian Kehutanan melakukan workshop gaharu pada skala regional yang bekerjasama dengan Kabupaten Bangka Tengah Propinsi BABEL.  Event tersebut adalah mandatory untuk sesi lanjutan pembahasan CITES yang telah dilakukan sebelumnya di Kuwait.

Adapun rumusan hasil seminar dan workshop tersebut adalah :

RUMUSAN

SEMINAR GAHARU INDONESIA DAN PROSPEK PASARNYA

(SIDE EVENT ASIA REGIONAL WORKSHOP ON AGARWOOD)

BANGKA TENGAH, BANGKA BELITUNG, INDONESIA

22-24 NOVEMBER 2011

  1. Pemanfaatan dari alam yang masih berlangsung saat ini harus diimbangi dengan peningkatan pengembangan budidaya tanaman gaharu di seluruh wilayah Indonesia. Untuk menjamin keseimbangan ini harus segera dibuat rencana pengelolaan dan rencana aksi nasional pengembangan gaharu secara komprehensif yang didukung oleh seluruh Stake holder gaharu;
  2. Untuk menjamin keberlangsungan pemanfaatan gaharu, baik alam maupun budidaya, harus dibuat sistem Non Detriment Finding (NDF) yang kuat dan efektif yang meliputi antara lain :
    1. Sistem quota (alam) yang didasarkan kepada data dan informasi berbasis riset;
    2. Sistem pendataan potensi gaharu yang yang dapat dipercaya (database potensi gaharu), baik spasial maupun non spasial;
    3. Data/informasi permintaan pasar (DN/LN)
    4. Mendorong peningkatan kapasitas stakeholders, pelaku usaha, petani gaharu ditingkat lokal untuk dapat menguasai dan menerapkan IPTEK budidaya, pengelolaan dan produksi inokulan, khususnya untuk budidaya gaharu;
    5. Untuk menjamin kelangsungan usaha, percepatan pelayanan kepada masyarakat dan kepastian potensi tanaman gaharu, perlu segera dibuat sistem registrasi budidaya gaharu nasional yang antara lain memuat:
      1. Sistem pendataan tanaman yang jelas dan terukur;
      2. Mekanisme dan prosedur registrasi yang mudah dan murah, namun dapat dipertanggungjawabkan;
      3. Kelembagaan registrasi yang efektif dan efisien. Terhadp hal ini peran kelembagaan pemerintah yang ada di daerah perlu diprioritaskan. Khusus untuk Propinsi Bangka Belitung, pembentukan Balai KSDA perlu segera dipercepat;
      4. Aspek pasar (marketing), terutama untuk gaharu budidaya, perlu ditangani secara serius dan segera agar semangat pembudidayaan gaharu yang sudah berkembang saat ini tetap terjaga. Upaya-upaya yang perlu dilakukan antara lain :
        1. Kerjasama antara petani (produsen) gaharu dengan pedagang gaharu (pengumpul dan eksportir) yang transparan dan saling menguntungkan;
        2. Peran fasilitasi pemerintah (pusat atau daerah) untuk :

1)   Membangun mekanisme pasar yang transparan, baik lokal maupun nasional;

2)   Memberikan akses dan informasi pasar seluas – luasnya kepada petani gaharu;

3)   Membuat sistem labeling dan packing produk gaharu untuk peningkatan nilai produk dan kepercayaan pasar;

4)   Membuat standar kualitas gaharu dan produk gaharu yang terukur;

5)   Membuat sistem informasi yang efektif tentang pengelolaan gaharu Indonesia (antara lain melalui web atau publikasi)

6)   Fasilitasi pembentukan kelembagaan pelaku usaha gaharu di daerah-daerah (forum komunikasi atau kelompok-kelompok profesi termasuk pusat informasi di daerah)

7)   Perlu dirancang perlindungan hukum yang efektif (termasuk perda) untuk menjamin berjalannya suatu sistem, mekanisme dan prosedur pengembangan budidaya gaharu.

  1. Mendorong pemerintah pusat untuk menempatkan pengembangan budidaya gaharu sebagai prioritas (Crash program), antara lain dalam program :
    1. Pengembangan hutan tanaman rakyat (HTR) untuk perluasan tanaman gaharu
    2. Pengembangan kebun bibit rakyat (KBR) untuk membantu penyediaan bibit
    3. Pemanfaatan dana Badan Layanan Umum (BLU) untuk membantu pola pembiayaan budidaya gaharu
    4. Hibah atau bantuan sosial melalui sektor-sektor terkait, baik pusat atau daerah (program PNPM, dll).
    5. Mendorong Badan Litbang Kehutanan bersama-sama LIPI untuk melakukan kajian-kajian atau penelitian antara lain tentang :
      1. Pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit terhadap tanaman gaharu secara biologis dan ramah lingkungan;
      2. Unit kelayakan usaha (Economic scale) gaharu
      3. Identifikasi jenis tanaman penghasil “Decaying log” di Papua
      4. Kajian kemungkinan mendatangkan bibit-bibit gaharu unggul dari luar negeri, baik dari aspek ekonomis maupun ekologis
      5. Kajian tentang syarat-syarat dan aturan main produksi serta pemanfaatan inokulan gaharu
      6. Tanaman gaharu Indonesia memiliki daya komparatife yang tinggi dibandingkan dengan negar-negara penghasil gaharu lainnya di dunia, mengingat jumlah jenis pohon aharu dan jumlah jenis mikro-organisme (jamur) yang sangat tinggi. Namun demikian persoalan serius yang perlu kewaspadaan semua pihak adalah hama gaharu yang dapat mengganggu kelangsungan budidaya gaharu.
      7. Pembasmian dan pengendalian hama gaharu dianjurkan secara biologis atau mekanisme (monitoring rutin). Penggunaan bahan kimia (pestisida) merupakan pulihan terakhir dan sifatnya lokal (terisolasi)
      8. Pola budidaya gaharu yang efektif disarankan menggunakan sistem agroforestri (sehingga ada hasil antara yang diperoleh sebelum gaharu memberikan hasil).

10. Peluang pasar gaharu hasil budidaya masih terbuka luas, terutama untuk Timur Tengah, China, Taiwan dan Singapura. Karena itu gerakan budidaya gaharu di Indonesia perlu terus disosialisasikan dan dikembangkan.

Bangka tengah, 24 Nopember 2011

Pimpinan Sidang

Ir. Adi Susmianto, M.Sc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 29, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: